Selasa, 04 Oktober 2011

Kenapa harus Jepang yang lebih dulu mengerti ANAK-ANAK???


Sulit bagi saya menyembunyikan keheranan ketika mendengar seorang Guru atau Orang Tua melakukan tindak kekerasan saat anak-anaknya berbuat sebuah kesalahan atau tidak berprestasi di bidang matematika. Padahal sejatinya dunia ini dibentuk beragam hal lain selain matematika.
ada delapan kecerdasan majemuk anak :
a. spasial - visual :
1.Menyukai bidang seni rupa (lukisan, patung, dll)
2.Dapat mengembangkan gambaran suatu ruang dari beberapa sudut yang berbeda.
3.Menyukai bacaan yang penuh oleh gambar-gambar berwarna.
sedikit contoh dari mereka adalah : Pablo Picaso, Michael Angelo, Raden Saleh, Affandi

b. linguistik
1.Menyenangi puisi
2.Menyenangi cerita-cerita
3.Senang membaca dan menulis
beberapa orang tipe ini adalah : WS. Rendra, Taufik Ismail, Soekarno, Winston Churchill

c. interpersonal
1. menyukai pekerjaan yang berhubungan dengan orang lain atau dalam kelompok
2. menyenangi permainan yang melibatkan banyak peserta
3. pandai berkomunikasi dan bahkan manipulasi
tokoh besar tipe ini : Ayatullah Khomeini, Mahatma Gandhi, Mother Theresa

d. musikal
1. dapat dan senang memainkan alat musik
2. senang menyanyikan lagu atau mendengarkan musik dimana saja
3. peka terhadap nada dan irama
contohnya : Mozart dan Beethoven

e. natural
1. senang memelihara binatang dan merawat tanaman
2. mempunyai minat besar terhadap pengetahuan dunia flora dan fauna
3. menyukai kegiatan yang berhubungan dengan alam, seperti berkebun dan memancing
contohnya : Harun Yahya dan Bob Sadino

f. body kinestetik
1. menyukai aktivitas olahraga
2. menyukai gerak tubuh
3. memikirkan sesuatu dengan banyak bergerak
diantara tokoh besar dengan tipe ini adalah : Zinedine Zidane, Ronaldo, Mohamad Ali

g. intra personal
1. memiliki buku catatan pribadi tempatnya mengungkapkan perasaan
2. sensitif terhadap nilai diri
3. menyadari kelemahan dan kelebihan dirinya
mereka dengan tipe ini adalah : Plato, Sigmund Freud

h. logik matematik
1. menyukai hal-hal yang berhubungan dengan angka dan menghitung
2. menyukai eksperimen dan pengembangan ilmu pengetahuan terbaru
3. menyukai pelajaran matematika
contonya : Albert Einstein juga Thomas Alva Edison

dari sekian banyak kecerdasan seringkali orangtua atau Guru dengan kurang bijak menuntut anak untuk sama.
semua suka dan pintar matematika!

seandainya kita membayangkan kehidupan kita yang kompleks ini diisi oleh semua orang bertipe logik matematik...
apa yang akan terjadi???

dulu, orang tua siswa saya selalu bertanya tentang "rengking" anaknya di kelas saya dan kepada setiap orang saya jawab bahwa ananda yang baik peringkat pertama di kelas saya.
lama-lama orang tua mulai curiga, "kok semua yang tanya diberi kabar putra/putri kesayangannya yang juara??"
kemudian saya menjawab,
"buat saya semua anak JUARA, saya menyayangi mereka semua dengan setiap keunikan pribadi yang tidak bisa disamaratakan semuanya. buat saya putra/putri Ibu adalah JUARA"

ada Ilma yang logik matematik...
ada Fajrien yang body kinestetik...
ada Raina yang intrapersonal...
ada Haidar yang natural...
ada Nanda yang musikal...
Farhan yang interpersonal...
Putri yang linguistik...
dan Hanif yang spasial visual...

bisa jadi secara akademik mereka memang memiliki nilai yang TIDAK SEMPURNA di mata kita, orang tua dan gurunya, tapi sungguh, ketika kita percaya bahwa mereka adalah para juara dengan keunikan yang tidak disamaratakan maka akan nampak bahwa Allah telah menciptakan mereka dengan SEMPURNA.

di Jepang ada salah satu acara rutin yang diadakan setiap skolah di sana, jugyousanka.
jugyou = pengajaran atau pelaksanaan suatu mata pelajaran.
sanka = berpartisipasi.
pada acara ini, orang tua atau wali murid diundang untuk menghadiri proses belajar mengajar yang diterima murid tersebut.
selama acara ini berlangsung, Guru tidak muncul sebagai pembicara yang melaporkan kemampuan murid-muridnya, tapi semua pengisi acara itu adalah murid!
mereka juga di"absen" berdasarkan tanggal kelahiran, jadi yang paling tua duluan, yang kecil belakangan.

mereka semua menunjukkan kebolehannya masing-masing dan setiap anak yang unggul di satu bidang tidak kemudian memberinya nilai lebih dari orang lain.

sungguh mengharukan ketika kemampuan setiap anak mendapat pengakuan yang layak, tidak dibeda-bedakan.
dan, kata-kata yang diucapkan setiap anak yang akan presentasi, "dengarkan dengan mata, telinga dan hati".

sebuah pelajaran berharga yang nyata dari negeri yang mayoritas bukan Muslim untuk memberi penghargaan setinggi-tingginya terhadap manusia sesuai kemampuan mereka masing-masing.
tidak heran jika kemudian anak-anak Jepang ini akan tumbuh menjadi manusia kreatif, senang berkarya dan membuat inovasi-inovasi baru.
^_^

*dengan perasaan membuncahkan rindu pada 3 Palestina-ku
really love u, my dearest children

Tidak ada komentar:

Posting Komentar