Mujahid…
Tiba-tiba aku merindukanmu
Seakan kau nyata di pelupuk harapku
Mujahid…
Ijinkan aku menjaga izzah untuk menemani
perjuanganmu
Mujahid…
Aku ingin ungkapkan sebait kejujuran dari hati
Kelak
jika waktu itu berwujud di hadapanku
Adakah
maaf atas khilaf yang meluas banyaknya?
Akankah
kau terima aku yang jatuh bangun
Pun
untuk menata hati?
Mujahid…
Kaukah itu?
Seorang utusan yang kan warnai langitku dengan
pelangi
Menjadi sahabat setia dalam taat padaNya?
Mujahid…
Andai kau tau
Entah apa dan dimana dirimu
Mungkin aku mulai menunggu
Dalam tiap do’a malu-malu kumohon hadirmu
Menjadi murabbi pribadiku, selalu!
Menerjemahkan kekanakan dan kepolosanku dengan
kasih sayangmu
Menguatkan tekadku dan semua kekerasan sikap
serta semangatku dengan azzam untuk melindungiku
Aku semakin berharap perjumpaan denganmu
Saat mata bahkan tak kuasa merekam sosokmu
Ketika telinga sayup merekam tiap hela nafas
berisi ruh perjuanganmu
Lisan yang kemudian memintaku menemani hari
yang katanya selama ini sepi
Mujahid…
Maafkan aku!
Sanggupkah semua potensi buruk ini berbuah
sabarmu?
Bantu aku mengubur dalam waktu lalu,
cerita-cerita pilu itu
Mujahid…
Ya! Aku menunggumu
Meski bekal seadanya dan iman yang belum
pantas dibanggakan
Disini menjadi mujahidahmu, insyaALLAH ridha
bersamamu meraih syahid fii sabilillah
Mujahid…
Tak baik menertawai gayaku
Jika suatu saat kau tau bahwa aku mungkin
bukan impianmu
Mari bersabar
Bersama hari-hari yang berfajarkan keikhlasan
Berpagi dengan pengharapan
Berterik dengan perjuangan panjang
Bersenja dalam ketaatan
Kembali menutup tiap hati dalam rakaat-rakaat
pengabdian
Mujahid…
Doakan agar jalan terjal ini bukan untuk
membinasakanku
Tapi demi tangguhnya hijab seorang muslimah
yang berserah dalam genggaman tangan perkasaNya
Berikan kepercayaan agar hati ini tak terbagi
Mujahid…
Untaian kata ini mendemonstrasikan azzamku
Kau yang membaca dan mendengarnya dengan jiwa
Tentu kau tak perlu mencariku
Karena aku pun begitu
Percayakan pada Rabb kita
Aku menunggumu
Meski malu…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar